Senin, 03 November 2014

Facebook sebagai Sarana Penunjang Belajar Bahasa Jerman

            Barangkali guru yang paling repot kalau hendak mengajar adalah guru bahasa asing. Bagaimana tidak, jika guru-guru pelajaran lain mungkin bisa melenggang ke dalam kelas dengan modal satu atau dua buku sebagai bahan ajar, guru bahasa asing tidak demikian. Sebagai guru bahasa Jerman di SMA, saya kerap harus “pindahan” dari rumah ke kelas. Banyaknya bahan ajar yang saya bawa sudah pasti memaksa saya untuk membawa tas yang berukuran besar. Bermacam buku, kamus, berbagai materi penunjang seperti game, teks lagu, majalah, buku cerita, dan lain-lain kerap memenuhi tas saya.
Sudah cukup? Tentu saja tidak! Masih ada laptop, loud speaker, infocus, dan perangkat lain yang akan melengkapi. Kalau saya beruntung, pihak sekolah yang akan menyediakan loud speaker dan infocus. Tapi, kalau tidak, selain membawa laptop, saya harus membawa loud speaker sendiri—dan mungkin juga infocus kalau saya memilikinya. Itu sebabnya saya selalu membawa dua tas besar saat pergi mengajar.  

Suasana belajar bahasa Jerman di kelas

Mengapa saya sampai seribet itu mempersiapkan bahan ajar? Padahal, tidak semua guru bahasa asing mau bersusah-susah membawa banyak "amunisi" ke kelas. 

Belajar Lebih Mudah dan Menarik dengan TIK 
Bagi saya, keberhasilan siswa dalam memahami bahasa Jerman merupakan kesuksesan saya sebagai gurunya. Bila siswa gagal atau mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasi, itu berarti saya tidak total dalam mengajar. Tingkat kemampuan dan daya serap siswa terhadap materi yang diberikan sangat bervariasi, untuk itu diperlukan berbagai materi dan sarana penunjang agar dapat mengakomodasi kebutuhan siswa dalam belajar. Dan, umumnya, siswa SMA merasa bahasa Jerman itu sangat sulit, sehingga mereka mudah bosan dan jenuh bila belajar terus-menerus dalam waktu yang relatif lama. Sehingga, penting untuk saya menyiapkan bermacam materi penunjang yang menyenangkan untuk mengembalikan semangat belajar siswa, seperti game, video/film sederhana, lagu, serta cerita yang kesemuanya tentu dalam bahasa Jerman. Saya sebisa mungkin menciptakan suasana belajar yang seru dan santai.

Siswa sedang memainkan game menyusun lirik lagu dalam bahasa Jerman yang sedang diputar

                            Siswa sedang menonton video Teletubbies dalam bahasa Jerman

Di zaman yang diserbu oleh teknologi serbacanggih sekarang ini, lagu, video/film, maupun cerita sangat mudah didapatkan melalui berbagai media informasi dan komunikasi seperti You Tube. Dengannya, materi teori bahasa Jerman di kelas dapat lebih mudah dipahami karena langsung diaplikasikan dalam bentuk visual. Itu sebabnya saya berusaha memanfaatkan teknologi ini dengan cara menghadirkannya ke kelas yang saya asuh. Video-video yang biasa saya pilih adalah yang sederhana dan mudah dipahami oleh siswa, seperti film anak-anak atau kartun. Namun, saya menghadapi kendala terkait peralatan yang tidak selalu disediakan oleh sekolah. Atau, kalaupun ada, kondisinya tidak lagi baik. Sehingga, saya pernah mengecewakan siswa yang sudah berharap bisa menonton film “Teletubbies” dan “Pocoyo” dalam bahasa Jerman karena infocus di kelas tidak berfungsi.       


                             Pocoyo, film animasi yang bisa dijadikan bahan untuk mendalami bahasa Jerman
  
Penggunaan Facebook untuk Belajar Bahasa

Mengajarkan bahasa asing khususnya bahasa Jerman memiliki tantangan tersendiri. Bagaimana membuat siswa yang tadinya tidak mengenal bahasa Jerman sama sekali kemudian bisa mengerti dan berbicara dalam bahasa Jerman dalam waktu relatif singkat. Keberhasilan siswa dalam mempelajari bahasa Jerman tidak bisa hanya dinilai melalui hasil ujian. Karena bahasa adalah sarana komunikasi yang menghubungkan seseorang dengan orang lainnya, maka tolok ukur terbaik dalam menilai kemampuan bahasa seseorang adalah melalui percakapan ataupun tulisan yang mewakili percakapan tersebut.
Hal itu kemudian membuat saya berpikir untuk lebih memudahkan siswa belajar di rumah dengan membuat sebuah grup pembelajaran bahasa Jerman di Facebook, khusus untuk siswa-siswa saya, demi menambah alternatif cara belajar. Seperti yang telah diketahui secara luas, Facebook merupakan media sosial yang paling banyak penggunanya, dan tak sedikit dari mereka yang merupakan siswa SMA. Saya pernah menyempatkan diri untuk mencari akun Facebook siswa-siswa saya, dan ternyata cukup banyak dari mereka yang aktif di media sosial tersebut. Menariknya, status-status pendek yang ditulis oleh mereka seperti “bosan”, “hmm ...,” atau “lagi males” mencerminkan bahwa mereka tidak tahu ingin menulis apa ataupun melakukan apa di Facebook. Hal ini dapat dimaklumi mengingat usia mereka yang masih sangat muda sehingga memiliki pengetahuan yang terbatas dan karenanya belum bisa memaksimalkan penggunaan Facebook untuk hal-hal yang lebih berguna.
Ide saya membuat grup belajar bahasa Jerman di Facebook mendapat tanggapan positif dari siswa-siswa saya. Di grup bernama Wir Lernen Deutsch tersebut, saya dan para siswa saling berinteraksi melalui diskusi sederhana tentang pelajaran bahasa Jerman. Saya mengusahakan menulis status yang sesuai dengan apa yang baru dipelajari di kelas. Seperti gambar di bawah ini: 

Status sesuai dengan apa yang sudah dipelajari di kelas

Berbagai video berbahasa Jerman yang tadinya tidak bisa ditonton di kelas pun dapat dengan mudah diakses di grup Wir Lernen Deutsch. Siswa bebas menontonnya kapan saja, di mana saja, dan dapat ditonton berulang-ulang sampai paham. Tentu saja saya menyertakan “tugas mandiri” terkait video yang ditonton agar siswa dapat berlatih di luar kelas, meskipun tanpa paksaan mengerjakan.
Ini melegakan. Karena, jauh lebih mudah membagikan bahan ajar tambahan di grup Facebook dibanding membawa seabrek perlengkapan ke kelas. Apalagi siswa langsung dapat mengaksesnya hanya dengan modal sambungan internet. Meskipun demikian, grup Wir Lernen Deutsch bukanlah segala-galanya. Pembelajaran di kelas tetap harus dilakukan dengan maksimal. Saya tetap menjalani rutinitas saya yang membawa berbagai kebutuhan mengajar yang menyenangkan ke kelas. Grup Facebook hanyalah pendukung dan “layanan” ekstra dari saya untuk para siswa. 


Video yang tidak bisa ditonton di kelas, diunggah ke grup Facebook

Dalam grup Wir Lernen Deutsch, siswa bebas bertanya tentang apa pun yang ingin diketahuinya—tak melulu soal pelajaran. Tak hanya saya, siswa juga diperbolehkan dan disarankan untuk membagikan sesuatu tentang hal-hal yang berkaitan dengan bahasa Jerman/negara Jerman untuk didiskusikan atau sekadar sebagai bahan obrolan.
Sesuai tujuan pembelajaran bahasa agar pembelajarnya dapat menguasai bahasa tersebut, siswa diimbau untuk berupaya menuliskan komentar atau status di grup dalam bahasa Jerman semampu mereka. Apalagi Facebook juga memberi layanan penerjemahan di bagian bawah setiap komentar berbahasa asing. Salah tidak apa-apa, yang penting mereka mencoba. Dalam menulis komentar dalam bahasa Jerman, secara tidak langsung mereka juga belajar. Mungkin mereka perlu membuka kamus atau translator sebelumnya, yang nantinya dapat menambah perbendaharaan kata yang mereka ingat. Karena, belajar melalui praktik langsung jauh lebih efektif dan mudah ketimbang hanya menerima atau membaca teori.


Sah-sah saja meminta bantuan Google Translate untuk menulis komentar dalam bahasa Jerman

 Pembentukan grup ini juga akan memberikan alternatif kegiatan di Facebook daripada sekadar “curhat”. Siswa jadi memiliki tujuan yang lebih positif ketika mengisi waktu dengan Facebook-an. Belajar bahasa Jerman diharapkan menjadi lebih menyenangkan karena dilakukan tanpa beban ataupun tuntutan yang berlebihan. Dan, yang paling penting, mereka dapat belajar kapan saja mereka inginkan, tak terbatas hanya di kelas.

Guru Bahasa Asing Harus Menyenangkan
Selayaknya sebuah media sosial yang mengutamakan silaturahmi, keberadaan grup ini juga membuat saya lebih dekat dan akrab dengan siswa-siswa saya. Yang menarik, ada seorang siswa yang sangat tidak acuh di kelas (sering terlihat asyik dengan tabletnya), tetapi ternyata aktif di grup Facebook ini. Apa pun alasan yang membuatnya aktif di grup—meskipun sebenarnya tidak ingin serius belajar—saya tetap bersyukur. Karena, ketika dia masuk ke grup, minimal dia membaca postingan terbaru saya yang berisi pelajaran bahasa Jerman yang sudah dibahas di kelas.    
Menurut saya, guru bahasa asing haruslah menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa-siswanya. Karena, keberhasilan seseorang mempelajari bahasa asing sangat ditentukan oleh kenyamanan dalam belajar, baik itu ruangan atau suasana belajar, maupun interaksi yang berkualitas dengan guru. Siswa harus terbebas dari rasa takut dan malu kepada guru bahasanya agar dia dapat mempraktikkan kemampuannya berbahasa asing tanpa ragu. Ketertarikan siswa pada media sosial sangat mendukung hal ini. Karena, suasana kaku yang biasa terjadi di kelas dapat dicairkan melalui pembelajaran di media sosial.
Bagaimanapun, teknologi informasi dan komunikasi sangat dibutuhkan dewasa ini. Dunia telah berkembang dengan sangat pesat. Cara belajar siswa masa kini juga mungkin sudah jauh berubah dibandingkan dengan gaya belajar siswa dua puluh tahun yang lalu. Kebanyakan siswa sekarang lebih menyukai belajar lewat internet ketimbang belajar secara normal. Sebagai guru, kita diharapkan lebih peka dan update dengan teknologi-teknologi terbaru yang kira-kira bisa "diboyong" ke kelas demi menyesuaikan atau meng-up date cara mengajar kita.[] 

(Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Guru Blogger Inspiratif 2014 dengan tema "Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Menunjang Proses Mengajar")

Rabu, 01 Oktober 2014

[Draft Novel] Bukan Malam Pertama Part #1



#1

Rasa yang tak terkata
Cinta yang tak terlisan
Merenda getar siksa
Di bilah hati tertawan

“Rez ... kenapa, sih, kamu belum punya pacar?” tanya Luna sambil menyusut bulir-bulir kristal yang mengalir dari matanya. Lalu bola mata indah itu memandang jauh ke tengah-tengah Danau Lake Burley Griffin yang berkilauan ditimpa hangatnya sinar mentari musim panas. Jembatan di atasnya tampak kokoh dan megah, seolah tengah memeluk danau dengan penuh rasa kepemilikan. Lake Burley Griffin kebanggaan kota Canberra itu sedang ramai dengan orang-orang yang menikmati wisata air; naik kano, perahu, sepeda air, boat, juga kapal ferry kecil yang berlayar mengitari danau. Di musim panas, danau ini memang menjadi tujuan wisata utama kota Canberra.
Rezi yang duduk beralas rumput di sisi Luna hanya tertawa kecil. Pandangannya tak beralih dari air mancur besar yang ada di tengah danau. Titik-titik airnya terbang jauh terembus udara yang bergerak dan membiaskan pelangi ketika bertemu sinar matahari. Luar biasa indahnya.
“Kamu yang punya pacar saja sebentar-sebentar nangis begini .... Jangan-jangan, aku juga akan mengecewakan gadis yang aku pacari nanti,” jawab Rezi dengan nada bercanda. Ia menoleh ke arah Luna sambil mengerlingkan mata. 
Luna menghela napas tak puas mendengar jawaban Rezi. “Kamu, kan, bukan Michael, Rez. Michael ... benar-benar tega sama aku ....” Bibir Luna bergetar, matanya kembali berkaca-kaca. “Bodohnya aku bisa terpikat pada laki-laki seperti itu ... mata keranjang!” Wajah Luna tampak memerah marah ketika mengingat mantan kekasihnya.
Michael pemuda Australia yang sangat populer di kalangan mahasiswi University of Canberra. Gadis mana pun akan bertekuk lutut melihat ketampanan dan TVR Tuscan ungunya. Sulit agaknya mengikat Michael dalam sebuah komitmen bernama cinta, karena hanya akan menorehkan luka dan kecewa.
Luna dan Michael baru putus tadi malam, setelah setahun belakangan ini Luna mencoba berpikir lebih realistis soal kelanjutan hubungan mereka. Dan sore ini, Luna meminta Rezi menemaninya ke tepi danau untuk sekadar menumpahkan kegalauannya.
Sebagai sahabat, Rezi sudah menjadi langganan keluh-kesah Luna. Perempuan belia asal Indonesia yang sudah menetap di Australia bersama keluarganya sebagai permanent resident itu kerap “menyandera” Rezi bila sedang menghadapi masalah. Mereka satu kampus di University of Canberra tetapi lain jurusan. Luna tercatat sebagai mahasiswi jurusan Creative Writing di Faculty of Art, sedangkan Rezi mendapat beasiswa dari pemerintah Australia untuk menuntut ilmu strata 1 jurusan Enviromental Science di Faculty of Education, Science, Technology & Mathematics. Mereka menjadi akrab sejak sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia Australia.
“Aku tahu, ada beberapa cewek di sini yang naksir kamu, Rez. Masa iya, enggak ada seorang pun yang sreg di hatimu?” sambung Luna sengaja memancing.
Rezi malah tertawa. “Kamu tahu dari mana ada cewek yang suka sama aku? Sok tahu, ah.”
Luna mengernyitkan keningnya yang sempit dan memanyunkan mulutnya yang mungil. Bibirnya tampak segar dan penuh dengan sapuan lipgloss berona pink.
“Enggak usah pura-pura. Masa kamu enggak bisa baca sikap Kasuni padamu?” protes Luna dengan menyebut nama seorang gadis India yang cantik dan seksi, teman mereka. “Atau ... Svetlana, model Rusia itu. Lalu ...”
“Stop, stop, stop!” sergah Rezi cepat. “Kamu sedang bikin absen? Hm ... Luna ... Luna .... Kalau ada yang cocok sama aku, pasti akan aku gaetlah. Masa dianggurin saja?”
“Kamu sudah punya cewek idaman atau belum, sih, sebenarnya?” desak Luna bersemangat. Rezi terkekeh melihatnya.
“Ya ... sebenarnya ada, sih ... tapi dia enggak tahu,” ungkap Rezi sambil melirik Luna diam-diam. Mencuri-curi pandang pada Luna sudah sering Rezi lakukan. Rezi tak ingin ketahuan bahwa dia sangat mengagumi setiap lekuk wajah gadis berkulit putih itu.
Luna terbelalak mendengar bahwa Rezi ternyata sudah memiliki pujaan hati. Seorang Rezi yang dinginnya setengah mati, rupanya diam-diam telah jatuh cinta! Dongeng apa pula ini? pikirnya.
“Siapa? Siapa? Orangnya di Indonesia, ya?” kejar Luna tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Dia penasaran sekali. Baginya ini hal yang sangat aneh. Karena selain dengan Luna, Rezi tak sering berinteraksi dengan perempuan. Meskipun ramah dan enak diajak mengobrol, pembawaan Rezi yang tipikal pemuda gila belajar membuat gadis-gadis malas mendekatinya, kecuali mereka yang benar-benar serius menaruh hati. Padahal, menurut Luna, Rezi adalah sosok sahabat yang menyenangkan dan bisa diandalkan. Hm ... mungkinkah sikap dingin Rezi selama ini karena sebenarnya Rezi sudah punya tambatan hati nun jauh di Indonesia ... seorang perempuan yang sudah bertahun-tahun ditunggunya? Aih, mengapa Luna tak tahu?  
“Ada, deh. Mau tahu saja, sih,” kata Rezi sambil tertawa. Tulang pipinya tampak menaik, memperjelas garis wajahnya yang tampan. “Eh, mau es krim enggak, Lun?” tawar Rezi mengalihkan pembicaraan. Luna mengangguk. Menikmati keindahan Danau Lake Burley Griffin tak lengkap bila tanpa es krim yang lembut dan dingin.
Dengan segera Rezi bangkit dari duduknya dan berjalan menuju warung es krim di dekat tempat penyewaan sepeda air. Luna menunggunya dengan gelisah sembari berusaha menikmati semilir angin yang sejuk. Untunglah sore ini cuaca tak terlalu panas. Musim panas di Australia biasanya berlimpah matahari, sehingga suasana menjadi begitu kering. Bahkan di puncak musim panas, rumput dan pepohonan kering meranggas seolah-olah hangus terpanggang panas matahari. Dan di Canberra ini, di mana populasi kanguru masih sangat banyak, itu adalah saat kanguru-kanguru muncul di tempat-tempat yang berumput; seperti lapangan bola, playground, dan halaman rumah orang, karena kekurangan makanan.
Tak lama kemudian, Rezi sudah kembali membawa dua cone es krim vanila-cokelat-hazelnut. Rezi mengangsurkan salah satunya pada Luna. “Kesukaanmu ...,” kata Rezi, lalu kembali duduk santai di samping Luna.
“Siapa nama gadismu, Rez?” tanya Luna langsung. Sejak tadi Luna sudah tak sabar ingin menanyakan hal ini pada Rezi. Menunggu Rezi membeli es krim, terasa sangat lama bagi Luna.
“Lho, masih penasaran? Kirain sudah lupa.” Rezi tersenyum simpul menatap mata cantik Luna.
Luna tampak mulai sebal karena Rezi tak kunjung menjawab pertanyaannya. “Iyalaaah. Bilangin saja kenapa, sih? Aku, kan, pengin tahu siapa gadis yang berhasil merontokkan hatimu yang keras itu.”
“Naaah ... kamu cemburu, ya?” goda Rezi, lalu menjilat lelehan es krim yang mulai meluap dari cone-nya.
“Cemburu?”  Luna melengos sambil membuang muka. “Impossible!
Rezi tertawa lagi. Sepertinya dia puas sekali karena telah berhasil membuat Luna nyaris mati penasaran. Sementara Luna gemas sekali melihat sikap Rezi yang sengaja mengombang-ambingkan saraf ingin tahunya. Geregetannya terasa membuncah sampai ke ubun-ubun. Tapi, Luna tak bisa berbuat apa-apa selain berharap Rezi mau membuka rahasianya.
Yang membuat Luna merasa gerah, entah mengapa, ada semacam perasaan tak nyaman begitu tahu Rezi menyukai seseorang. Cemburukah? Sepertinya bukan. Mungkin itu hanya sekadar perasaan tak rela mengetahui bahwa dirinya bukan seseorang yang menjadi prioritas Rezi. Bayangan bahwa gadis itu menguasai seluruh hati Rezi membuat kepala Luna terasa berat. Rasanya seperti orang yang sedang kecurian.  Dan Luna ... seperti ... tak ingin gadis itu ada.
“Hei, melamun!” kejut Rezi sambil memetik jarinya di depan hidung Luna yang bangir. Luna tersentak dengan wajah bersemu merah. “Es krimnya cair, tuh,” sambung Rezi sambil menunjuk tangan Luna yang sudah terkena lelehan es krim.
Luna ternganga, lalu buru-buru menjilati es krimnya secepat mungkin, seolah berlomba dengan titik leleh es itu. Rezi tertawa-tawa melihat tingkah Luna.
“Duuh ... lengket semua, nih. Pulang saja, yuk,” ajak Luna sambil bangkit dari duduknya.
“Tuh, air banyak ...,” tunjuk Rezi ke arah danau yang beriak kecil, mendapat sedikit ombak karena sebuah kano tengah bergerak perlahan. Di tepian danau, tampak sekawanan angsa putih sedang duduk mengambang dengan anggun.
Luna memelototi Rezi dengan mulut sedikit terbuka. “Maksudmu, aku harus turun ke danau untuk cuci tangan, gitu?” Di bagian ini, tepian danau tidak landai karena merupakan tempat orang berperahu, bermain sepeda air, dan naik kapal kecil, bukan bagian yang biasa dipakai untuk mandi dan berjemur.
“Nggak perlu turun, kali, Lun, di pinggirnya saja. Lalu julurkan tanganmu ke air. Atau ... kamu mau ke toilet di ujung sana itu?” Rezi mengalihkan pandangan jauh ke arah sebuah bangunan berdinding bata ekspos. Umumnya, di Australia, dinding perumahan maupun bangunan lainnya terbuat dari batu bata, tanpa diplester lagi.     
Luna mengikuti arah pandangan Rezi, lalu berpikir sejenak dengan mulut dimiringkan ke kiri dan ke kanan. Malas rasanya jika harus berjalan ke toilet yang cukup jauh itu hanya untuk mencuci tangan.
“Ya sudah, deh, di danau saja,” putus Luna kemudian.
Rezi tersenyum melihat Luna berjalan pelan ke tepi danau. Rambut Luna berkibar-kibar anggun ditiup angin. Kaki Luna sedikit berjinjit ketika mendekati rerumputan yang tumbuh menutupi pinggiran danau. Pasti Luna sedang menghindari kotoran angsa yang biasa tersebar di atas rumput dekat danau. Langkah Luna semakin hati-hati menuruni tepian danau. Setelah dirasa cukup dekat dengan air, Luna berjongkok dan menjulurkan tangannya, berusaha mencapai air.
“Hati-hati, Luna!” Rezi mengingatkan sahabatnya itu.
Luna menarik tangannya dan menoleh sejenak ke belakang. Ia melempar senyum tipis ke arah Rezi. Kemudian Luna berbalik dan kembali menjulurkan tangannya ke air. Tapi ... ah ... Luna kehilangan keseimbangan. Badannya limbung, tangannya menggapai-gapai di udara, dan kakinya meluncur turun ke air.
“Aaah!” Luna menjerit ketakutan.
“Luna!” Seketika Rezi bangkit dan menyerbu ke arah Luna. Namun terlambat, Luna sudah tercebur ke air. Byurrrr! Rezi serta-merta ikut terjun ke air menyusul Luna.
Sebenarnya, tepian danau tidak dalam. Paling-paling sedada orang dewasa. Tetapi karena Luna tidak bisa berenang, Luna panik dan bergerak tak beraturan untuk menyelamatkan diri, yang justru membuatnya malah tak mampu bangkit dari air.
Rezi berhasil meraih lengan Luna. Luna sempat meronta karena merasa geraknya terhambat, tetapi begitu sadar bahwa itu adalah Rezi, Luna melemaskan badannya dan membiarkan Rezi merengkuhnya. Mata Luna memejam melepas rasa lega dan lelahnya, namun ia bisa merasakan tangan kekar Rezi menggendongnya dan merebahkannya di atas rerumputan.
“Luna ... Luna ...,” panggil Rezi. Suaranya terdengar khawatir.
Luna membuka matanya perlahan. Rezi tengah berlutut di sampingnya. Tubuhnya condong ke arah Luna hingga wajah Rezi yang dipenuhi gurat kecemasan jadi begitu dekat dengan Luna. Berada dalam jarak sedekat itu dengan Rezi membuat perhatian Luna terpusat pada wajah sahabatnya itu. Rambut Rezi yang basah membuat wajahnya tampak segar. Tampan ..., batin Luna jujur.
Entah mengapa, ada desiran hangat menjalari tubuh Luna. Ia tak pernah merasakan sensasi rasa seperti itu sebelumnya saat dekat dengan seseorang. Bahkan tidak juga pada Michael—sewaktu masih menjadi kekasihnya. Hubungannya dengan Michael seolah tak terdefinisikan. Terkesan hanya Luna yang menganggap Michael sebagai kekasih dan menaruh sejuta harap pada laki-laki asing itu. Sedangkan Michael ... entah di ruang hati sebelah mana ia menempatkan Luna. Karena ruang-ruang hati Michael seperti tak pernah kosong, selalu ada gadis-gadis yang mengisinya walaupun singkat. Dan Luna sudah lelah mempertahankan takhtanya.       
“Luna ...,” suara Rezi menyadarkan Luna dari lamunannya. Mata Luna mengedip beberapa kali.
Thank you, Rez,” ucap Luna lirih. Rezi tersenyum lega lalu mengangkat wajahnya sedikit menjauhi Luna. “Kalau tidak ada kamu ... entahlah ...,” syukur Luna.
Senyum Rezi mengembang. “Entahlah gimana? Itu nggak dalam, kok. Kalau kamu berdiri dengan benar dan tidak panik, kamu bisa keluar sendiri dari air,” jelas Rezi sedikit meledek.
Luna terdiam sesaat, lalu menyengir. “Masa, sih?” tanyanya tak percaya, membuat Rezi tak dapat menahan tawanya.
“Iya, Aluna Inditiara. Masuk saja lagi kalau nggak percaya,” ujar Rezi lagi.
“Iiiih ....” Luna bergidik. Terbayang rasa takutnya selama di dalam air tadi. Ia pikir ia akan mati saat itu. Bahkan ketika tadi Rezi menarik tangannya, Luna sempat berpikir bahwa itulah malaikat maut yang akan membawanya meninggalkan dunia, sehingga ia meronta-ronta.
Luna bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk mendekap lutut. Tubuh dan pakaian yang basah serta embusan angin danau yang menerpanya membuat Luna merasa kedinginan.   
“Dingin?” tanya Rezi pendek. Luna menoleh ke Rezi, lalu mengangguk kecil. “Ya sudah. Kita pulang saja. Kamu sanggup naik sepeda?”
“Sanggup ... aku nggak apa-apa, kok, cuma kaget saja tercebur tadi,” sahut Luna sambil beranjak dari rumput.
“Aku antar kamu, deh. Takutnya kamu masih lemas,” sahut Rezi sambil ikut bangkit.
“Beneran? Jauh, lho, kalau kamu harus balik lagi,” tanya Luna meyakinkan. Rumah Luna dengan apartemen Rezi berjarak cukup jauh, apalagi ditempuh dengan bersepeda.
“Enggak apa-apa, sambil jalan-jalan juga, kok. Hitung-hitung menikmati nyamannya bersepeda di Canberra sebelum pulang ke Indonesia, Lun,” jawab Rezi sambil tersenyum. Luna ikut tersenyum.
Kemudian Rezi dan Luna mengambil sepeda mereka yang disandarkan pada pohon eukaliptus yang menebar harum. Luna dan Rezi sangat suka baunya, sehingga mereka sering memetik beberapa lembar daun eukaliptus untuk diremas dan dicium.
Setelah memasang helm ke kepala, Rezi dan Luna mengayuh sepeda mereka masing-masing menyusuri jalan khusus sepeda.
“Sudah dapat tiket ke Indonesia, Rez?” celetuk Luna disela-sela kayuhan kakinya yang melambat. Di depan ada jalan aspal yang harus mereka seberangi, dan mereka berhenti untuk menekan tombol lampu lalu lintas agar kendaraan bermotor memberi jalan pada pejalan kaki dan pengendara sepeda seperti mereka.
“Oh ya, akhirnya aku dapat tiket juga tadi pagi. Jadinya minggu depan aku pulang habis. Tapi besok pagi aku sudah berangkat ke Sydney, pengin jalan-jalan dulu di sana sebelum terbang ke Indonesia, sekalian cari suvenir di China Town,” jawab Rezi.
Luna merasa ada semacam benda tajam yang menyayat kalbunya mendengar jawaban Rezi barusan. Bertahun-tahun terbiasa bersama Rezi, membuat Luna harus menata hati agar siap untuk kehilangan Rezi nanti. Minggu depan mereka akan mulai menjalani kehidupan masing-masing di belahan dunia yang berbeda, melepaskan kisah persahabatan mereka yang sangat manis.   
“Ah ... akhirnya ... aku lulus juga ...,” syukur Rezi dengan senyum mengembang.
“Kita lulus juga ... aku, kan, juga sudah lulus,” ralat Luna, membuat Rezi meliriknya lucu.
“Eh, hijau, tuh. Jalan!” seru Luna tiba-tiba.
Lampu bagi pengendara sepeda dan pejalan kaki berganti menjadi hijau, sedangkan lampu bagi kenderaan bermotor berubah menjadi merah. Luna dan Rezi cepat-cepat mengayuh sepeda mereka menyeberangi jalan.
“Mudah-mudahan kamu bisa dapat kerjaan bagus di Indonesia, ya, Rez,” kata Luna lagi.
“Amiiin,” sahut Rezi. “Kamu, Lun, tentu akan mencari pekerjaan di sini, kan?”
Luna mengangguk. “Aku ingin bekerja di penerbitan,” jawabnya singkat. Napasnya sudah mulai ngos-ngosan. Ternyata sudah jauh juga mereka mengayuh sepeda, sudah hampir sampai ke kawasan tempat tinggal Luna. Sebenarnya, meskipun Luna yang mengajak Rezi ke danau, tapi Rezilah yang mengusulkan agar mereka bersepeda saja. Kata Rezi, untuk melepaskan energi negatif yang menumpuk di diri Luna yang sedang marah dan kecewa setelah putus dari Michael.
“Oh ya, aku lupa bilang, permohonan kami untuk pindah kewarganegaraan sudah dikabulkan pemerintah Australia,” Luna memberi tahu.
“Wow ... serius?” Rezi terperangah. Setelah dua puluhan tahun keluarga Luna menetap di Australia, akhirnya mereka resmi menjadi warga negara Australia juga.
“Iya. Papa dan Mama senang banget, tuh. Kalau aku ... entahlah ... aku tidak bisa membedakan mana yang lebih enak, jadi warga negara Indonesia atau Australia, karena sejak umur dua bulan aku sudah dibawa tinggal di sini,” tutur Luna lagi.
Rezi mengangguk-angguk mendengar penjelasan Luna. “Tapi ... rasanya aneh mengetahui bahwa ... kamu bukan WNI lagi, Lun,” sahut Rezi pelan.
Luna mengernyitkan dahinya. Dia tak mengerti maksud kata-kata Rezi. Apanya yang aneh? Toh sejak bayi aku memang sudah tinggal di sini. Bahkan, aku hanya sempat sekali berkunjung ke Indonesia. Itu pun saat usiaku baru lima tahun, tak banyak yang bisa kuingat, kata Luna dalam hati.
“Aneh kenapa, sih?” tanya Luna heran.
Rezi terdiam sejenak, seperti mengumpulkan energi yang begitu besar sebelum melontarkan kata-kata, “Ya ... rasanya ... kita jadi semakin jauh ....”
Luna tertegun meresapi ucapan Rezi. Kita jadi semakin jauh ....
Tiba-tiba, “Lyneham Shop!” seru Rezi begitu melihat pusat pertokoan di Lyneham, karena rumah keluarga Luna tak jauh lagi. Luna tersentak lalu tertawa kecil.
“Yup! Aku duluan, ya. Terima kasih, Rez, sudah nganterin aku sampai ke sini!” pamit Luna sambil melambaikan tangannya.
“Oke, hati-hati!” sahut Rezi, lalu membelokkan setang sepedanya menuju ke arah yang berlawanan. Tetapi, baru beberapa kayuhan, tiba-tiba Rezi berbalik dan mengejar Luna dengan sepedanya. “Luna! Tunggu!” serunya kencang.
Luna yang mendengar panggilan Rezi menghentikan laju sepedanya dan menoleh ke belakang. Tampak Rezi yang semakin mendekat.
“Ya? Ada apa lagi?” tanya Luna ketika Rezi sudah berada di hadapannya.
Rezi terdiam, meragu sesaat. Tapi ia tak tahan lagi. Perasaan yang sudah terpendam selama ini harus dilepaskan. Luna harus tahu, betapa sejak awal pertemanan mereka, Rezi sudah menyimpan cinta yang besar padanya. Perhatian, kasih sayang, waktu luang ... semuanya telah Rezi persembahkan untuk Luna. Hanya untuk Luna ... meskipun Luna tak menyadarinya.
“Luna ... aku ... aku tahu, mungkin kamu menganggap ini lucu. Aku sadar kita adalah teman ... cuma teman ... tapi ...,” Rezi menghela napasnya. Berat. “Aku ... mencintaimu ... Luna ....”
Akhirnya pernyataan itu terucap juga dari bibir Rezi. Rezi sadar, cintanya ini mungkin tak berbalas, tetapi Rezi tetap ingin menuntaskannya. Ia tak ingin membawa beban ini pulang ke Indonesia. Biarlah cinta bertepuk sebelah tangan ini ia tinggalkan di Australia, terkubur sepi di Canberra. Ia ingin memulai hidup baru dan mudah-mudahan juga akan menemukan cinta baru di Indonesia.  
Luna terperangah. Matanya menatap Rezi lekat-lekat, seolah tak percaya. Lidahnya terasa kelu, membisu, tak tahu harus berkata apa. Rezi ... mencintainya? Yang benar saja!
Menyadari hal itu, Rezi buru-buru berujar, “Kamu tak perlu menjawabnya, Luna, karena aku memang bukan mencari jawaban, juga tak mengharapkan jawaban. Aku sudah bisa menebak apa jawabanmu. Aku hanya mengutarakan isi hatiku sebelum kita berpisah, dan mungkin tak pernah bertemu lagi. Itu saja. Tak perlu merasa bersalah karena sudah mendengarnya ....”
Rezi menatap Luna dengan pandangan nanar. “Aku pulang. Jaga dirimu baik-baik, ya,” tukasnya sebelum menjauh meninggalkan Luna yang masih terpana.
“Rezi ...,” desis Luna sambil menatap kepergian Rezi dengan hati galau. [be]

Sabtu, 27 September 2014

http://aceh.tribunnews.com/2014/09/21/beby-haryanti-menulis-itu-bersenang-senang

“SAYA menulis karena senang. Menulis itu bersenang-senang. Saya puas bisa berbagi ilmu, pelajaran, dakwah. Semua itu telah mengisi batin saya. Ketika seseorang menemukan suatu kebahagiaan atau solusi dari permasalahannya karena tulisan saya, betapa puasnya saya. Saya bahagia, berlega hati bisa berbagi.”
Itulah sederet rasa yang diungkap novelis kelahiran Rantau, Aceh Tamiang, 7 Februari 1974, guru bahasa Jerman, Sarjana Sains Unsyiah, dan ibu rumah tangga bernama Beby Haryanti Dewi, yang juga penulis scenario untuk televisi swasta nasional, dan editor sejumlah penerbit nasional. 
Mulanya, jenuh di rumah ketika ikut suami kuliah di Jerman, lalu killing time dengan browsing ke situs-situs, blog, hingga suatu hari sekitar tahun 2002 Beby mampir di blog Asma Nadia (novelis, penyair, dan penulis kondang Indonesia).
Beby tertarik. “Wah, ada undangan menulis. Iseng saya coba kirim nonfiksi kisah inspiratif. Ternyata, tiga hari kemudian dijawab, dan saya diterima. Waktu itu, tak percaya rasanya karya saya dibukukan bersama 14 penulis ternama. Saya belum pernah belajar menulis. Lalu bukunya terbit. Aduh, ketika terbit, saya pingin rasanya tersenyum sepanjang hari. Saya rupanya bisa menulis ya? Oh, tidak percaya, amazing rasaya,” ungkap Beby sumringah mengenang masa permulaan dia menulis. 
Dengan secercah asa dan rasa percaya diri itulah Beby pun mulai belajar menulis secara otodidak. Lahirlah novel pertamanya tentang obat terlarang dengan konsumen anak SD, setebal 30 halaman, tahun 2006. Waktu itu penerbit hanya memberi waktu satu minggu saja kepada Beby. Perempuan kuning langsat ini was-was juga sih, tapi tawaran menjadi tantangan juga baginya.
Seperti itulah kisah Beby terjun ke dunia tulis menulis. Tetapi mengapa Beby lebih membidik pembaca anak dan remaja, padahal dia seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak pula? Karena fakta novel-novel genre itulah yang sedang laris manis di pasaran? “Oh tidak, tidak. Saya memang suka anak-anak dan remaja. Dunia mereka dunia ceria, jujur dan apa adanya, dimana kitapun bisa memasukkan ide-ide dan pikiran bagi pembentukan masa depan mereka. Saya kemas ringan, mengalir, sesuai dengan dunia mereka, tidak ribet seperti novel-novel bagi pembaca dewasa. Ada sih, yang meminta saya membuat novel dewasa. Tapi nantilah.”
Suaminya, Dr.rer.nat Ilham Maulana SSi, telah mewarnai karir menulisnya. Mungkin ada satu kelegaan bagi Beby ketika sang suami bersepaham dengan ide-ide novel karyanya. “Bagi cerita-cerita nonfiksi saya, suami sayalah pembaca pertamanya. Saya tahu beliau sangat sibuk. Namun tetap sempat berdiskusi, memberi masukan bagi novel saya. Saya konsultasikan, pantas tidak pantasnya novel saya diterbitkan. Kalau sudah sepaham, itu menjadi kelegaan bagi saya.” So, setelah ada restu dari sang suami, maka merdekalah novel-novel nonfiksi Beby melanglang Nusantara menjumpai peminat dan penikmatnya. Lebih bergengsi, karena telah diakui oleh penerbit taraf nasional.
Tidak bisa dibantah lagi bila novel-novel Beby sudah memiliki pangsa tersendiri, dan dari amatan Serambi, dialog-dialog dalam novel Beby memang tajam dan dinamis. Lalu menurut dia, mengapa banyak penulis perempuan Aceh tak lancar menjajaki dunia pasar? “Betul ya, penulis perempuan Aceh banyak yang hebat-hebat sebenarnya. Tapi mengapa mereka lalu seperti jalan di tempat? Mungkin tulisan-tulisan mereka yang sering menang lomba itu, belum tentu laku ke dunia penerbitan. Inilah dilemmanya,” kata Beby dengan nada ikut prihatin.
Serambi lalu meminta saran Beby bagi penyuka ruang tulis menulis. Beby sejenak terdiam. Seolah tak berani sesumbar apalagi menggurui publik. “Menurut saya, yang pertama itu, jadilah penulis yang jujur. Kitapun tak boleh latah menulis hal sama seperti ditulis orang lain. Kita harus menjadi diri sendiri yang beda. Harus percaya bahwa setiap buku itu punya jodohnya. Punya pembacanya sendiri.”
Begitulah, hingga saat ini Beby telah mempublikasi 43 karya genre antologi, novel anak, novel remaja, nonfiksi, dongeng anak, kumpulan cerita, picbook, chapter book, scenario, script televisi, dan Letusan Vesuvius yang Misterius bergenre artikel.   
Akhirnya yang ter-up date ada dua buku terbaru Beby, Bern dan Boldy Bertualang ke Antartika (Al-Kausar Kids, 2014), dan Catatan Hati Pengantin yang dikeluarkan Asa Nadia Publishing House, 2014. Selain mengajar bahasa Jerman, mengelola les menulis, pemateri seminar-seminar, dan mengasuh ketiga buah hatinya, 
keseharian Beby terbagi pula di http://bebyharyantidewi.blogspot.com, dan bebymaulana@gmail.com. Mau berselancar di lautan ide dan pikiran mantan head teller sebuah bank ini? Terserah Anda.(nani hs)

Senin, 28 April 2014

Taman Putroe Phang dan Gunongan; Tempat Bermain si Putri Pahang



           Hari Minggu. Hm ... mau ajak anak-anak jalan-jalan ke mana, ya? Rasanya bosan kalau ke tempat yang itu-itu saja. Akhirnya saya punya ide, "Bagaimana kalau kita pergi ke objek wisata yang bersejarah?" tanya saya pada anak-anak. 
           Ternyata anak-anak tidak begitu bersemangat dan menolak pergi, tapi saya terus menyemangati. Masa, sih, tinggal di Banda Aceh tapi tidak pernah mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di Banda Aceh? Kalau ada turis yang bertanya, bagaimana nanti kami bisa memberikan keterangan yang memadai? Terlebih, anak-anak saya belum terlalu lama tinggal di Banda Aceh karena dulu menetap di luar negeri. Jadi, mereka memang belum banyak mengunjungi tempat-tempat menarik di kota ini.
       Maka, hari itu, saya mengajak suami dan anak-anak berjalan-jalan ke beberapa objek wisata bersejarah di Banda Aceh, termasuk Taman Putroe Phang dan Taman Sari Gunongan. Tak lupa, saya meminta anak-anak membawa alat tulisnya untuk mencatat apa-apa yang menarik di lokasi wisata tersebut.
        “Kita sedang menjadi Dora the explorer!” seru saya bersemangat. Tapi, anak-anak malah memandang saya dengan ekspresi datar. Ah, sudahlah! Let's go!
        Kami pergi dengan menggunakan kendaraan pribadi agar perjalanan menjadi lebih mudah. Taman Putroe Phang terletak di Jalan Nyak Adam Kamil, tidak begitu jauh dari Masjid Raya Baiturrahman—masjid yang menjadi landmark kota Banda Aceh—sehingga tidak sulit menemukan lokasi wisata menarik ini. Selain dengan kendaraan pribadi, tentu saja taman ini bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan umum, orang Banda Aceh biasa menyebutnya “labi-labi”. Dari tempat mangkal labi-labi di daerah Merduati, ongkosnya sekitar Rp3.000,00. Atau, bisa juga dengan menumpang becak motor. Ongkosnya tergantung jarak yang ditempuh, biasanya sekitar Rp3.000,00/km. Ya, setidaknya itu berdasarkan stiker tarif yang sering saya lihat di belakang becak motor. Tapi, sepertinya masih bisa nego, sih!   

Pintu Masuk Taman Putroe Phang

            Menjelang siang dan perut mulai keroncongan, kami tiba di Taman Putroe Phang. Dari luar, taman ini tampak sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat di sekitar lokasi—para satpam dan penjual jajanan. Lho, pengunjungnya cuma kami? Entahlah, mungkin di dalam taman ada pengunjung lain. Setelah memarkir mobil di bawah kerindangan pepohonan besar, kami langsung masuk ke dalam taman. 
Taman Putroe Phang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) pada abad ke-16. Menurut riwayat, taman ini merupakan ungkapan rasa cinta sang Sultan pada istrinya yang berasal dari Kerajaan Pahang, Malaysia. Wow, romantis, ya? Seperti kisah Taj Mahal di India saja!  
Putroe Phang (bahasa Aceh) sendiri jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Putri Pahang”. Konon, Putroe Phang sering merasa sedih dan gundah karena rindu pada kampung halamannya di Pahang. Oleh karena itu, untuk menghibur sang Permaisuri, Sultan Iskandar Muda mempersembahkan taman ini agar Putroe Phang dapat bermain dengan dayang-dayang dan melupakan kegundahannya.

Taman Putroe Phang yang cantik.

Begitu kami memasuki taman, tampak bangunan kecil berbentuk seperti kubah berdiri di tengah-tengah taman yang dikelilingi kolam. Rupanya, itu adalah Pintoe Khop. Pintoe Khop yang berukuran 2x3x3 meter ini dulunya merupakan pintu gerbang yang menghubungkan istana dengan Taman Sari Gunongan (dulu bernama Taman Ghairah). Pintoe Khop ini disebut juga Pintu Biram Indrabangsa yang artinya “pintu mutiara keindraan atau raja-raja”. Kini Pintoe Khop terlihat unik, seperti bangunan kecil berwarna putih yang “berdiri sendirian” di dalam taman, ditambah lagi ia telah dipagari demi menjaganya dari tangan-tangan jail. Ungkapan lebih gamblangnya lagi, ya tinggal pintu doang

Pintoe Khop

Pintoe Khop dari dekat
Catatan Sejarah Pintoe Khop

            Saya sengaja menyiapkan bekal makan siang dari rumah agar kami bisa sekalian piknik. Ya, untuk menghemat juga, sih. Kami pun mencari-cari tempat yang paling strategis agar dapat berpiknik dengan nyaman. Tampak tempat duduk bertingkat dari beton berbentuk setengah lingkaran yang di depannya ada semacam selasar yang dilindungi kanopi. Tempat itu biasa digunakan jika ada acara-acara yang berlangsung di Taman Putroe Phang. Tapi, kami tidak ingin duduk di sini, kami mencari tempat duduk yang lebih masuk lagi ke dalam taman agar bisa melihat pemandangan dengan lebih leluasa.

Tempat duduk yang teduh
 
Berpayung kanopi.
            
            Kami lalu melewati sebuah jembatan gantung bercat putih untuk menyeberangi kolam pemandian sang Permaisuri. Jembatan itu tampak kokoh dan cantik, serta tidak terlalu bergoyang saat ditapaki. Anak-anak malah senang mondar-mandir di jembatan ini. Sensasi berjalan sambil digoyang-goyang rupanya sangat menarik buat anak-anak. Kalau saya, sih, pusing!  

Jembatan Gantung

Tak jauh dari ujung jembatan, di bawah tempat duduk berpayung yang terbuat dari besi yang dicat putih, kami pun menikmati santap siang sambil melihat-lihat keindahan taman. Menu nasi putih dengan daging rendang terasa nikmat meskipun tanpa sayur. Saat itu, taman masih sepi. Hanya ada tiga orang remaja yang sedang duduk-duduk santai di bangku taman. Apa karena ini masih siang? Setahu saya, keadaan akan berbeda bila sore hari. Saya sering melihat taman di tengah kota ini penuh dengan keluarga yang membawa anak-anaknya bermain di arena playground yang tersedia, terutama pada hari libur. Fasilitas playground-nya lumayan mengasyikkan buat anak-anak yang berusia di bawah dua belas tahun. Atau, mungkin masih kurang promosi, ya, sehingga wisatawan belum begitu tertarik untuk mendatangi Taman Putroe Phang ini.

Kursi taman

Playground

Usai menghabiskan makanan, saya membiarkan anak-anak bermain sebentar di playground, sementara saya duduk sambil memperhatikan sekitar. Hhh ... sungguh tenang rasanya berada di taman ini. Taman Putroe Phang yang luas tampak asri dengan pepohonan yang tumbuh teratur dan rapi. Imajinasi langsung mengantarkan saya ke zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Seolah-olah saya sedang berada di sini bersama Putroe Phang yang bersenda gurau dengan dayang-dayangnya, mandi bunga di kolam, atau sekadar melepas lelah. Seorang putri cantik menawan berlarian di sebuah taman nan indah ... hm ... sungguh pemandangan yang memesona. Mungkin saat itu taman ini jauh lebih indah dengan berbagai macam bunga yang menghiasinya, yang sayangnya tak lagi saya temukan saat ini. Saya tersenyum membayangkannya. Ah, ngayal! Yang jelas, taman istimewa ini masih memerlukan beragam bunga aneka warna untuk menambah keindahan dan kecantikannya. Kalau yang sekarang saya lihat, di mana-mana hanya didominasi warna hijau. Adem, sih, tapi kurang cetar membahana! 

Pepohonan yang berjajar rapi
Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, bagaimana ceritanya hingga seorang putri dari Kerajaan Pahang, Malaysia, bisa menjadi permaisuri seorang Sultan Aceh? Kenalannya di mana? Aceh dan Malaysia, kan, jauh untuk ukuran transportasi zaman dahulu. Apalagi dulu belum ada media sosial, hehehe.
Ternyata, dulu tentara Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Pahang di Semenanjung Utara Melayu. Sebagaimana kerajaan yang kalah perang, maka Kerajaan Pahang harus menyerahkan harta rampasan perang, upeti, dan pajak tahunan kepada Sultan Iskandar Muda. Dan, sebagai tanda takluk, Kerajaan Pahang juga harus merelakan Putri Pahang dibawa oleh Sultan Aceh tersebut.  
Kiranya, Putri Pahang nan cantik jelita dan berbudi bahasa sangat halus itu membuat sang Sultan terpikat. Akhirnya, Sultan pun memperistri Putri Pahang dan menjadikannya sebagai permaisuri. Pada masa itu, pernikahan antara seorang raja dengan putri kerajaan yang ditaklukkannya memang sudah biasa terjadi. Karena, hal itu dapat memperkuat kedudukan kerajaan yang menang, selain untuk mempererat persaudaraan.
Terletak di Negeri Syariat, Taman Putroe Phang juga dilengkapi dengan musala kecil, beserta toilet di dekatnya untuk memudahkan pengunjung mengambil air wudu. Taman ini terlihat sangat bersih, tampak banyak sekali tempat sampah yang tersebar di sana. Bahkan tong sampahnya dipisah antara untuk sampah basah dan untuk sampah kering. Wah, komplet, deh! Semakin betah berlama-lama bersantai di sini.

Musala

Toilet

Setelah anak-anak puas bermain, saya mengajak mereka ke Taman Sari Gunongan (dulu bernama Taman Ghairah) yang letaknya bersebelahan dengan Taman Putroe Phang. Asyik juga, nih, lokasi wisatanya berdekatan, jadi tidak terlalu capek mencapainya. Malah, di depan Taman Sari Gunongan juga ada objek wisata Kherkoff, makam tentara-tentara Belanda yang wafat dalam pertempuran di Aceh dulu.

Papan Petunjuk Taman Sari Gunongan

Ketika kami masuk ke lokasi Gunongan, suasana juga tampak sepi. Cuma ada tiga orang remaja putri yang terlihat sedang asyik berfoto-foto. Hei, ke mana orang-orang lainnya? Sepi-sepi saja! Padahal, bangunan Gunongan ini tampak cantik dan menyimpan sejarah yang menarik, lho. Ternyata, program Visit Aceh 2013 yang lalu masih belum bergigi untuk mendongkrak minat wisatawan berkunjung ke sini, ya. Woro-woro-nya harus digencarkan lagi, dong!
Rupanya Gunongan dulu merupakan bagian dari Taman Putroe Phang, tetapi sekarang sudah terpisah oleh jalan raya sehingga tampak seperti dua objek wisata yang berbeda. Oh ... pantaslah! Dengar-dengar, dulu ada lorong di bawah tanah bangunan Gunongan yang menuju ke Pintoe Khop, tetapi kini sudah ditimbun seiring dengan pembangunan daerah ini.

Gunongan
   
Gunongan berarti “gunung kecil” dan merupakan miniatur perbukitan yang mengelilingi kerajaan Putroe Phang di Pahang. Sengaja dibangun sedemikian rupa agar Putroe Phang tidak selalu bersedih karena teringat Kerajaan Pahang. Jadi, seolah-olah Putroe Phang sedang berada di negerinya sendiri, begitu. 
Gunongan berbentuk persegi enam seperti bunga dan puncaknya dibentuk seperti mahkota. Di salah satu sisi Gunongan ini, ada sebuah pintu kecil yang ditutup semacam pintu pagar yang terbuat dari besi dan dicat warna perak. Sayang sekali, pintu itu digembok, sehingga saya tidak bisa masuk. Namun, saya sempat mengintip ke dalamnya. Ternyata itu sebuah lorong! Menurut keterangan yang saya baca di sana, di dalam lorong pintu tersebut, ada sebuah tangga untuk naik ke tingkat tiga bangunan Gunongan. Yah ... nggak bisa naik, deh!

Pintu masuk ke dalam Gunongan
 
Ini lorongnya.
Hari-hari sang Permaisuri banyak dihabiskan di sekitar Gunongan. Bersama dayang-dayangnya, dia senang memanjati bangunan Gunongan ini. Saya juga sempat melihat sebuah foto yang mengabadikan beberapa tentara KNIL (tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang duduk di atas Gunongan pada tahun 1874. Ternyata, sejak dahulu, Gunongan telah menjadi objek yang menarik dan cocok menjadi tempat untuk berfoto, ya! 

Foto tentara KNIL sedang duduk di atas Gunongan

Selain sebagai tempat bercengkerama, Gunongan juga dijadikan sebagai tempat Putroe Phang berganti pakaian dan mengeringkan rambut usai berenang di kolam pemandian. Di dekatnya ada sebuah bangunan kecil dan pendek berukir. Ada lubang di bagian atasnya. Bentuknya mirip lesung tempat menumbuk padi dan ada undakan untuk naik ke atas. Tadinya saya pikir itu apa ... kok aneh? Ternyata itu adalah Leusong, bagian dari Gunongan juga. Saat saya lihat, Leusong itu berisi air. Mungkin itu air hujan yang tertampung.

Leusong

Di samping Gunongan, ada sebuah bangunan yang dinamakan Kandang. Bentuknya persegi empat. Ada sebuah pintu masuk seperti pintu pagar besi yang lebih besar daripada pintu masuk ke Gunongan. Namun, lagi-lagi karena dikunci, saya hanya bisa melihat dari luar. Bagian dalam Kandang terlihat seperti taman berumput. Aduh, ini kenapa pada dikunci semua? Padahal saya, kan, turis juga ... walaupun domestik.

Kandang di sebelah Gunongan

Dulu, Kandang merupakan tempat jamuan makan Sultan Iskandar Muda dan Putroe Phang bersama orang-orang istana, juga rakyat. Katanya, sih, dulu Kandang ini ada atapnya. Berarti, Sultan Iskandar Muda itu rendah hati sekali, ya, sampai-sampai beliau berkenan menjamu rakyatnya di Taman Ghairah ini? Mengagumkan! Raja yang sangat merakyat. Patut dicontoh oleh para pemimpin di negeri ini, khususnya di Aceh.
Beberapa waktu kemudian, Kandang dijadikan sebagai makam Sultan Iskandar Thani, menantu Sultan Iskandar Muda, yang memerintah tahun 1636-1642. Sultan Iskandar Thani ini merupakan anak Sultan Pahang, Malaysia, dan Sultanah Safiatuddin Tajul Alam. 

Pintu masuk ke Kandang

Menelusuri sejarah Taman Putroe Phang dan Taman Sari Gunongan sungguh menyenangkan. Kisah sebuah kerajaan dengan seorang permaisuri cantik dan raja tampan memang selalu memiliki daya tarik bagi siapa saja. Bak cerita dalam dongeng, tapi romantisme Sultan Iskandar Muda dengan Putroe Phang ini kisah nyata. Sejarah, lho! Anak-anak saya yang tadinya tidak begitu berminat mengunjungi objek wisata ini, belakangan malah meminta saya untuk lebih lama lagi berada di tempat ini. Mereka sibuk membaca keterangan-keterangan tentang Gunongan yang terdapat di sana sambil mencatat apa-apa yang menarik.
"Sebentar, Ma! Saya belum siap mencatat!" seru anak sulung saya ketika diajak pulang.

Catatan Sejarah Gunongan

Yang saya sayangkan, pintu masuk ke bangunan Gunongan dan Kandang terkunci, sehingga wisata kami ke sini menjadi tak lengkap dan tak tuntas. Alangkah baiknya jika tempat wisata ini selalu dalam keadaan “siap dikunjungi” selama waktu kunjungan agar pengunjung yang sudah jauh-jauh datang ke sini tidak kecewa. Kalau saya, yang memang tinggal di Banda Aceh, masih bisalah di lain kesempatan berkunjung lagi sampai berkali-kali demi memuaskan keingintahuan saya tentang apa yang ada di balik pintu-pintu yang terkunci itu. Tapi, kalau turis asing atau turis dari luar daerah? Belum tentu mereka punya kesempatan datang ke sini lagi. Sayang, kan?  
Setelah anak-anak puas, kami pun meninggalkan Taman Sari Gunongan. Saya tersenyum penuh kemenangan ketika anak sulung saya yang tadinya ogah-ogahan pergi ke sini berkata, “Ternyata, sejarah Aceh itu menarik sekali, ya, Ma. Saya kira cuma begitu-begitu saja.”
Memanglah, Nak, tak kenal maka tak sayang. Kenali tanah kelahiranmu agar cinta pada negeri ini bertumbuh di hatimu ....[]

Sabtu, 19 Oktober 2013

Seminar Penulisan BEM MIPA Unsyiah



Pada hari Sabtu, 28 September 2013 lalu, saya berkesempatan untuk menyampaikan materi penulisan kepada para mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Tentu saya sangat senang karena dapat berbagi ilmu dengan alumni sendiri. Seminar penulisan bertema “Goresan Pena untuk Dunia” merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian acara Ladies on the Shoot yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) MIPA Unsyiah. 

            Dalam seminar tersebut, saya menyampaikan materi bertajuk “Write Your Life”, yang berisikan motivasi, penjelasan, dan trik-trik bagaimana agar para mahasiswa dapat menulis dengan mudah. Seperti diketahui, salah satu kendala dari penulis pemula adalah sulitnya menemukan ide. Padahal, ide tersebar di mana-mana, hanya kita yang tidak peka untuk menangkapnya. Sumber ide terbesar dan tak pernah habis justru adalah hidup kita sendiri. Dan, menuliskan kisah hidup pribadi merupakan cara menulis paling mudah. Karena, ceritanya sudah ada, tokoh-tokohnya pun nyata, tinggal bagaimana kita menuliskannya saja.
            Dalam materi tersebut, saya juga menjelaskan, meskipun yang ditulis adalah kisah pribadi, tetapi kita tetap harus mempunyai tujuan; untuk apa cerita tersebut dituliskan, apakah untuk memberi inspirasi kepada orang lain, untuk menghibur, rekam jejak, atau bahkan untuk pencitraan. Tak hanya itu, cerita pribadi juga harus dituliskan sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan yang umum agar cerita menjadi lebih menarik dan lebih mudah dipahami oleh pembaca. 

Namun, menuliskan kisah pribadi juga memerlukan keberanian. Bisa jadi yang kita ceritakan itu merupakan aib atau kejadian yang tidak menyenangkan. Untuk itu, kita mempunyai pilihan dalam memublikasikan tulisan tersebut; apakah dalam bentuk memoar yang jelas-jelas menampakkan jati diri kita, atau dalam bentuk memoar tetapi memakai nama samaran, atau bisa juga dalam bentuk novel yang berarti dikemas dalam balutan fiksi. Masing-masing pilihan memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Di akhir materi, saya juga memberikan tips bagaimana menuliskan artikel perjalanan bagi para mahasiswa yang senang melakukan traveling ke berbagai daerah atau tempat-tempat yang menarik.
Antusiasme para mahasiswa tampak jelas dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan dalam sesi tanya jawab. Sayangnya, keterbatasan waktu membuat beberapa peserta tidak mendapat giliran untuk bertanya. Saya harap, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah diberikan dapat mewakili jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Usai memberikan materi, tiba-tiba MC memberikan saya sepiring buah-buahan. Saya ditantang untuk membuat cerita spontan dengan buah-buahan tersebut. Tentu saja saya kaget, tidak menyangka akan ditodong seperti itu. Namun, saya tetap mencoba melakukannya. Lalu, saya mengambil sebuah apel, sebuah salak, dan setangkai anggur yang ada di piring buah itu.

Saya membuat cerita tentang si Anggur yang ingin berubah menjadi salak. Karena tubuhnya yang lunak dan mudah rusak (bonyok), Anggur ingin mempunyai kulit yang keras agar tubuhnya lebih terlindungi. Anggur meminta pendapat Apel. Apel menyarankan Anggur menutup rapat dirinya dengan plastik agar tubuhnya tak mudah bonyok bila terkena sesuatu. Setelah Anggur menyelubungi dirinya dengan plastik, keesokan harinya dia mendapati tubuhnya bonyok akibat tertutup rapat oleh plastik tanpa sirkulasi udara.
Para peserta memberikan aplaus meriah setelah saya selesai bercerita. Sesi saya pun kemudian berakhir, dilanjutkan dengan sesi berikutnya yang diisi oleh penulis novel R. H. Fitriadi.[]